Gumam-an di Minggu Sore
14 oktober 2012. Tepat di hari Minggu sore.
Vio terduduk
di ruang tamu, sambil memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipirkan. Ya, ia sedang bosan.
perasaan itu datang....
Perasaan yang tak diharapkan itu menghampirinya.
Ia benar benar benci untuk mengakui hal ini..
Ia merindukannya..
Merindukan seseorang yang sekarang menempati
hatinya. Tepatnya, merindukan
sosoknya yang dulu, merindukan setiap moment yang
mereka lakukan bersama.
Tepat di ruang tamu ini, di kursi yang sedang Ia duduki sekarang. Mengingatkannya pada siang itu, saat pulang sekolah. Faza, si penjahat yang telah mencuri hati nya. duduk di ruang tamunya, Faza duduk tepat disebelahnya, berbincang-bincang, membicarakan kehidupan mereka masing-masing, tertawa, sambil menyadarkan kepala di bahu Faza.
Vio
tidak bisa mengelak bahwa ia merindukan
hal itu, namun ia
juga tidak bisa memungkiri bahwa ia
benar-benar benci mengingat semua itu, mengingat hal yang sekarang sulit untuk
diwujudkan lagi, setelah perubahan yang terjadi dalam diri Faza.
Perubahan signifikan yang tak masuk akal.
Vio
mulai benci mendengar kata perubahan, kata perubahan itu membuat hal yang
sangat Ia tunggu, hal yang sangat Ia sukai bersama Faza, di lenyapkan begitu saja.
‘’aku mencoba memperbaiki
hubungan ini, dengan aku yang baru’’
"memperbaiki? Apa aku tidak salah dengar? Apanya yang kau perbaiki? Apakah dengan caramu yang tidak memberiku kabar seharian, tidak bertemu hampir seminggu, mengeluarkan kata-kata sinismu saat kita berbicara, keterselubungan yang sering kau tunjukkan itu memperbaiki? Bodoh!’’ Gumam Vio dalam hati, dan tanpa sadar, air mata jatuh di pipinya.
"memperbaiki? Apa aku tidak salah dengar? Apanya yang kau perbaiki? Apakah dengan caramu yang tidak memberiku kabar seharian, tidak bertemu hampir seminggu, mengeluarkan kata-kata sinismu saat kita berbicara, keterselubungan yang sering kau tunjukkan itu memperbaiki? Bodoh!’’ Gumam Vio dalam hati, dan tanpa sadar, air mata jatuh di pipinya.
‘’Apa
kau tidak mengerti? Perubahanmu menyiksaku..
Apa yang menyebabkan kau berubah seperti ini?
Apa kau
bosan? Apa sayangmu tidak seutuh dulu?
Aku tak pernah berfikir bahwa
kau akan menjadi seperti ini, sehingga saat ini terjadi aku benar-benar tidak
siap. Berkali-kali kata menyerah ku ucapkan. Dan berkali-kali pun kau tahan
itu. apa sebenarnya keinginanmu?’’ Vio kembali bergumam.
Jangan pernah bilang aku tak
pernah berusaha, jangan pernah bilang ku tak pernah berjuang.
Aku berusaha untuk melupakan
semua luka yang pernah kau beri, aku berjuang melawan sakit ini demi sebuah
cinta, kembali bersamamu, Faza.
Komentar
Posting Komentar